Penerbitan Saham Baru Hasil PMTHMETD
Bhuwanatala Indah Permai melaporkan penerbitan 502,87 juta saham baru melalui PMTHMETD dengan harga pelaksanaan Rp 200 per saham. Aksi ini menambah jumlah saham beredar perusahaan di pasar modal.
43 pengumuman pencatatan saham terbaru dari emiten BEI.
Bhuwanatala Indah Permai melaporkan penerbitan 502,87 juta saham baru melalui PMTHMETD dengan harga pelaksanaan Rp 200 per saham. Aksi ini menambah jumlah saham beredar perusahaan di pasar modal.
Teknologi Mobilitas mencatatkan penambahan 4,4 miliar saham baru sebagai hasil dari pelaksanaan HMETD pada 26 Oktober 2026. Penambahan jumlah saham beredar ini meningkatkan total modal ditempatkan dan disetor perusahaan di Bursa Efek Indonesia.
Energi Mega Persada mencatatkan 2,07 miliar saham baru hasil pelaksanaan rights issue. Penambahan ini membuat total saham beredar perusahaan menjadi 39,28 miliar lembar.
Apexindo Pratama Duta melaporkan pencatatan 218,09 juta saham baru melalui skema penambahan modal tanpa HMETD. Aksi korporasi ini meningkatkan total jumlah saham yang tercatat di bursa menjadi 3,76 miliar lembar.
Era Graharealty Tbk. melaporkan rencana go private dan delisting melalui penawaran tender sukarela atas 89,31 juta saham publik dengan harga Rp250 per saham. Pemegang saham pengendali, APAC Investment 2 Pte. Ltd., akan menggelar RUPSLB pada 20 Oktober 2026 sebagai bagian dari proses ini.
Teknologi Mobilitas melaporkan penerbitan 428,07 juta saham baru hasil pelaksanaan HMETD pada 16 Oktober 2026. Aksi ini meningkatkan total jumlah saham beredar perusahaan menjadi 44,64 miliar lembar.
Asuransi Harta Aman Pratama melaporkan pencatatan 2,02 miliar saham baru hasil pelaksanaan HMETD pada 16 Oktober 2026. Penambahan saham ini meningkatkan jumlah total saham beredar perusahaan menjadi 6,92 miliar lembar.
Asuransi Harta Aman Pratama melaporkan pencatatan 3,5 miliar saham baru melalui HMETD dengan harga pelaksanaan Rp50 per saham. Aksi korporasi ini menambah jumlah saham beredar dari 4,9 miliar menjadi maksimal 8,4 miliar lembar.
Berlina melaporkan pelaksanaan PMHMETD III dengan harga pelaksanaan Rp685 per saham dan nilai emisi maksimal Rp372,61 miliar. Aksi ini berpotensi menyebabkan dilusi kepemilikan bagi pemegang saham lama hingga maksimal 42,55%.
Fortune Indonesia melaporkan pencatatan 230,3 juta saham baru hasil pelaksanaan HMETD per 13 Oktober 2026. Penambahan ini membuat total saham beredar perusahaan mencapai 170,08 miliar lembar.
Energi Mega Persada melaporkan pencatatan 2,15 miliar saham baru hasil pelaksanaan HMETD pada 13 Oktober 2026. Aksi ini menambah jumlah total saham beredar perusahaan menjadi 29,2 miliar lembar.
Teknologi Mobilitas melaporkan pencatatan 15 miliar HMETD dengan harga pelaksanaan Rp200 per saham. Periode perdagangan dan pelaksanaan hak tersebut akan berlangsung dari 12 Oktober 2026 hingga 23 Oktober 2026.
Fortune Indonesia melaporkan pencatatan 966,73 juta saham baru hasil pelaksanaan HMETD pada 8 Oktober 2026. Penambahan tersebut membuat jumlah total saham perusahaan mencapai 169,84 miliar lembar.
Energi Mega Persada melaporkan pelaksanaan penambahan modal melalui HMETD IV sebanyak 13,28 miliar saham dengan harga pelaksanaan Rp310 per saham. Aksi ini meningkatkan jumlah saham beredar dari 26,56 miliar menjadi 39,85 miliar saham mulai 8 Oktober 2026.
Magna Investama Mandiri mencatatkan 400 saham baru yang berasal dari hasil konversi Waran Seri II. Aksi ini menambah total saham beredar perusahaan menjadi 3,41 miliar lembar.
Saranacentral Bajatama melaporkan penerbitan 900 juta saham baru melalui PMHMETD I dengan harga pelaksanaan Rp500 per saham. Aksi korporasi ini akan berlangsung pada 1 hingga 7 Oktober 2026.
Fortune Indonesia melaporkan rencana PMHMETD I sebanyak 215,1 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp126 per lembar. Aksi korporasi ini menargetkan perolehan dana hingga Rp27,1 triliun dengan tanggal cum-right pada 21 September 2026.
Pyridam Farma melaporkan penerbitan 17 saham baru hasil konversi waran yang mulai diperdagangkan pada 23 September 2026. Aksi ini menambah total saham beredar perusahaan menjadi 11,24 miliar lembar.
Era Graharealty melaporkan rencana perubahan status menjadi perusahaan tertutup dan delisting saham dari Bursa Efek Indonesia. Perusahaan menetapkan harga penawaran tender sukarela sebesar Rp250 per saham sebagai bagian dari proses ini.
Habco Trans Maritima melaporkan pencatatan 640 juta saham baru hasil private placement dengan harga pelaksanaan Rp500 per saham. Aksi ini menambah total modal saham beredar perusahaan menjadi 9,32 miliar lembar.
Bakrie Telecom melaporkan pencatatan 6,32 miliar saham baru hasil konversi obligasi yang efektif per 21 Agustus 2026. Aksi ini meningkatkan jumlah saham beredar menjadi 44,65 miliar lembar dan menyebabkan dilusi bagi pemegang saham lama.
Surya Citra Media mengurangi modal disetor dengan menghapus 10,41 miliar lembar saham. Jumlah saham beredar perusahaan kini berkurang menjadi 63,56 miliar lembar efektif per 10 Agustus 2026.
Abadi Nusantara Hijau Investam melaporkan pencatatan 1,28 miliar saham baru hasil konversi obligasi yang efektif per 6 Agustus 2026. Penambahan saham ini meningkatkan jumlah saham beredar menjadi 33,66 miliar lembar dan menyebabkan dilusi bagi pemegang saham lama.
Bakrie & Brothers melaporkan pencatatan 7,19 miliar saham baru hasil pelaksanaan HMETD yang akan efektif pada 3 Agustus 2026. Penambahan saham ini meningkatkan total saham beredar perusahaan menjadi 263,34 miliar lembar.
Bakrie & Brothers melaporkan pencatatan 735,24 juta saham baru hasil pelaksanaan hak memesan efek terlebih dahulu. Penambahan ini membuat jumlah total saham beredar perseroan meningkat menjadi 255,6 miliar lembar.
Minna Padi Investama Sekuritas mencatatkan 66,44 juta saham tambahan yang berasal dari pelaksanaan HMETD PUT I. Aksi ini meningkatkan total jumlah saham beredar perseroan menjadi 12,87 miliar saham.
Cashlez Worldwide melaporkan pencatatan 749,46 juta saham baru hasil pelaksanaan HMETD yang efektif per 22 Juli 2026. Aksi ini meningkatkan total saham beredar perusahaan menjadi 2,18 miliar lembar.
Wahana Interfood Nusantara melaporkan pencatatan 6,01 miliar saham baru hasil rights issue dan 200,46 juta waran Seri 2. Langkah ini membuat jumlah total saham beredar perusahaan meningkat menjadi 12,87 miliar lembar efektif mulai 22 Juli 2026.
Royaltama Mulia Kontraktorindo mencatatkan 310,18 juta saham baru hasil pelaksanaan rights issue yang efektif mulai 21 Juli 2026. Penambahan ini membuat total saham beredar perusahaan menjadi sebanyak 1,57 miliar lembar saham.
Minna Padi Investama melaporkan pencatatan 307,13 juta saham baru hasil pelaksanaan HMETD mulai 17 Juli 2026. Penambahan saham ini meningkatkan total jumlah saham beredar perseroan menjadi 11,90 miliar lembar.
Panca Global Kapital melaporkan pencatatan 562,10 juta saham baru hasil pelaksanaan hak memesan efek terlebih dahulu yang efektif per 15 Juli 2026. Aksi korporasi ini meningkatkan total saham beredar menjadi 3,44 miliar lembar serta mencatatkan 608,15 juta waran seri II di bursa. Penambahan jumlah saham tersebut mengubah struktur permodalan perusahaan dan menyebabkan dilusi bagi pemegang saham yang tidak mengeksekusi haknya.
Cashlez Worldwide melaporkan rencana penerbitan 996,68 juta saham baru melalui hak memesan efek terlebih dahulu dengan harga pelaksanaan Rp238 per saham untuk mengumpulkan dana sebesar Rp237,21 miliar. Sebanyak 45,44% dari dana yang diperoleh dialokasikan untuk pembayaran utang afiliasi, sementara pemegang saham yang tidak mengeksekusi haknya akan mengalami dilusi kepemilikan hingga 41,05%. Aksi korporasi ini bertujuan untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan sekaligus memberikan dampak material terhadap porsi kepemilikan investor publik.
Bakrie & Brothers melaporkan rencana penerbitan 89,92 miliar saham baru melalui skema hak memesan efek terlebih dahulu dengan harga pelaksanaan Rp53 per lembar saham. Perusahaan menargetkan perolehan dana sebesar Rp4,77 triliun, di mana porsi terbesar senilai Rp4,36 triliun akan dialokasikan sebagai pinjaman kepada anak usaha, BTI. Aksi korporasi ini membawa potensi dilusi kepemilikan saham hingga 34,15% bagi pemegang saham yang tidak mengeksekusi haknya.
Pelayaran Nasional Ekalya Purn melaporkan rencana penerbitan 2,11 miliar saham baru melalui mekanisme hak memesan efek terlebih dahulu dengan harga pelaksanaan Rp350 per saham. Aksi korporasi ini menargetkan perolehan dana sebesar Rp739,35 miliar yang dialokasikan untuk belanja modal serta investasi perusahaan. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat struktur permodalan, namun berpotensi menyebabkan dilusi kepemilikan hingga 22,18% bagi pemegang saham yang tidak mengeksekusi haknya.
Matahari Putra Prima melaporkan penambahan 13,22 miliar saham baru hasil dari pelaksanaan hak memesan efek terlebih dahulu, yang menjadikan total saham beredar mencapai 26,26 miliar lembar. Aksi korporasi yang efektif mulai 10 Juli 2026 ini meningkatkan jumlah modal ditempatkan dan disetor perusahaan secara signifikan. Peningkatan jumlah saham tersebut secara langsung berdampak pada dilusi persentase kepemilikan bagi pemegang saham yang tidak berpartisipasi dalam penawaran ini.
Geoprima Solusi melaporkan penerbitan 66,67 juta saham baru melalui skema private placement dengan harga pelaksanaan sebesar Rp427 per saham. Aksi korporasi ini meningkatkan jumlah saham beredar menjadi 733,42 juta lembar yang berdampak pada dilusi kepemilikan bagi pemegang saham lama sebesar 10%. Langkah ini dilakukan perusahaan sebagai bagian dari restrukturisasi modal yang akan dicatatkan secara resmi pada 6 Juli 2026.
Jaya Bersama Indo melaporkan adanya kendala internal yang menghambat pelaksanaan pembelian kembali saham sesuai dengan batas waktu 10 Mei 2026 yang ditetapkan otoritas bursa. Manajemen saat ini tengah melakukan konsultasi intensif mengenai proses pembelian kembali dan rencana menjadi perusahaan privat (go private). Ketidakpastian dalam pemenuhan ketentuan ini berpotensi memengaruhi kelancaran proses penghapusan pencatatan efek perusahaan di masa mendatang.
Matahari Putra Prima melaporkan rencana penawaran umum terbatas sebanyak 23,99 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp50 per lembar untuk menghimpun dana sebesar Rp1,19 triliun. Aksi korporasi yang mencakup 64,92% dari modal ditempatkan dan disetor ini berpotensi menyebabkan dilusi kepemilikan bagi pemegang saham yang tidak mengeksekusi haknya. Langkah ini diambil di tengah capaian pendapatan bersih perusahaan yang tercatat sebesar Rp7,25 triliun pada tahun 2025 dengan pertumbuhan 1,89%.
Matahari Department Store melaporkan pengurangan modal disetor melalui penarikan kembali 31.000.000 saham Seri C yang telah disetujui dalam RUPS-LB pada 15 April 2026. Aksi korporasi ini menghasilkan penyesuaian jumlah saham beredar menjadi 2.227.279.280 lembar yang efektif tercatat di bursa per 30 Juni 2026. Langkah ini bertujuan untuk mengubah struktur permodalan perusahaan dengan mengurangi jumlah saham yang beredar di pasar.
Mutuagung Lestari melaporkan penerbitan 309,28 juta saham baru melalui skema private placement dengan harga pelaksanaan sebesar Rp97 per lembar saham. Aksi korporasi ini meningkatkan total saham beredar menjadi 3,45 miliar lembar saham dan mengakibatkan dilusi kepemilikan bagi pemegang saham lama sebesar 8,96%.
Pantai Indah Kapuk Dua melaporkan penerbitan 72,48 juta saham baru melalui penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu dengan harga pelaksanaan Rp6.875 per saham. Aksi korporasi ini menghasilkan dana segar sebesar Rp498,28 miliar dan meningkatkan jumlah saham beredar menjadi 18,19 miliar lembar. Langkah ini menambah modal disetor perusahaan dengan tingkat dilusi pemegang saham sebesar 0,4%.
Organon Pharma melaporkan rencana aksi korporasi untuk menjadi perusahaan tertutup melalui penawaran tender sukarela atas 1,213% saham publik atau setara 43.664 lembar saham. Perusahaan menetapkan harga penawaran sebesar Rp100.000 per saham dengan total nilai transaksi mencapai Rp4,37 miliar. Langkah strategis ini menargetkan penghapusan pencatatan saham dari bursa setelah memperoleh persetujuan RUPSLB pada 23 Juni 2026.
Wintermar Offshore Marine melaporkan penerbitan 62,08 juta saham baru dalam rangka pembagian dividen saham yang akan efektif tercatat pada 18 Juni 2026. Aksi korporasi ini meningkatkan total saham beredar perusahaan dari 4,46 miliar menjadi 4,52 miliar lembar. Penambahan jumlah saham tersebut berpotensi memengaruhi perhitungan laba per saham bagi para pemegang saham di masa mendatang.